Mampukah aku seperti bunda,,,?

Kutatap jam dinding yang bertengger di dinding kamarku, jarum jam menunjukkan angka 00.05 Wib. Aku tersenyum, aku memang sengaja menunggu waktu ini. Segera saja aku beranjak dari kamarku, aku ingin memberi kejutan untuknya.

Namun,, langkah kakiku terhenti, saat mataku menatap bunda yang sedang berdoa, kedengaran lirih suaranya. Aku menunggu beberapa saat, hingga bunda selesai berdoa.

Kudekati bunda.. mendengar langkah kakiku, bunda menoleh padaku.

“Selamat Ulang Tahun Bunda” kataku dengan semangat dan langsung memeluknya.

“Terimakasih sayang,,,” bunda membelai rambutku dan mencium pipiku.

“Citra bangun hanya untuk ini, nak?” tanya bunda sambil menatapku..

“Aku menyayangimu, bunda.. dan banyak hal yang ingin citra bicarakan dengan bunda…”

“Bunda juga menyayangimu, anakku.. tapi, sekarang… citra tidur lagi gih,, nanti citra masuk angin, besok kita bicara ya nak”. Sebenarnya aku ingin menolak sih,, tapi aku ngak ingin membantah bunda, apalagi untuk hari special ini. Kutatap wajah bunda, Bunda memberikan senyumnya, dan akhirnya aku beranjak setelah mengucapkan selamat tidur pada bunda.

Sebelum tidur, aku mengatur alarm ke angka 04.30 Wib.

Tak lupa memanjatkan doa dan.. langsung tidur deh…

===================

Aku tersentak ketika alarmku menjerit-jerit ‘tuk membangunkan aku. Segera ku offkan alarm, berdoa dan langsung beranjak ke dapur. Yah,, pagi ini aku ingin menyiapkan sarapan untuk bunda. Tapi,,, untuk kedua kalinya aku terkejut. Ternyata bunda telah bangun terlebih dulu, aku hanya terpana tegak diam menatapnya.

Jari-jarinya terlihat lincah mengolah dan mengerjakan segala sesuatu, padahal masih terlalu subuh.. semua penghuni rumah juga masih bersembunyi di balik selimutnya. Udara pagi itu sangat dingin.

Tetapi dinginnya udara tidak dihiraukannya. Wajahnya selalu bersinar, senyumnya yang ramah dan manis mencerminkan semangat dan rasa bahagia.

Tak satu keluhanpun pernah keluar dari bibirnya yang merah. Bunda selalu melakukan semuanya dengan ikhlas. Sedangkan aku,,,? hanya banyak menuntut, mengeluh, sakit hati, marah dan kecewa.

Ya Tuhan,, ternyata aku banyak kekurangan. Aku tidak pernah membahagiakan bunda. Bunda selalu melakukan yang terbaik buat kami, bunda adalah sosok ibu yang sempurna.

“Hai, Citra… sudah bangun ‘nak? pagi benar bangunnya..?” suara bunda membuyarkan pikiranku yang gundah.

“Sebenarnya, citra ingin menyiapkan sarapan untuk bunda.. tapi, bunda sudah lebih dulu menyiapkannya. Ada yang bisa citra bantu bunda?”

“Sudah kog sayang, tak banyak yang mau dikerjakan, semuanya sudah hampir selesai. Oh iya, tadi sebelum tidur ada yang ingin citra bicarakan dengan bunda, ada apa sayang?” tanya bunda dengan lembut.

“Bunda,, apa yang membentuk bunda menjadi wanita sempurna? aku ingin belajar dari bunda”

“Duh,, gadis kecilku,, bunda bukan wanita sempurna sayang,, tidak ada manusia yang sempurna selain Allah. Bunda hanya berusaha untuk melakukan dan memberikan yang terbaik bagi semua orang, karena bunda akan bahagia bila melihat orang lain bahagia” Kata-kata bunda mengalir dengan lembut. Bunda membuatku semakin kagum. “memberikan yang terbaik?” gumanku berulang-ulang.

“Bunda,, Pernahkah bunda sakit hati? Pernahkah bunda marah? Pernahkah bunda menangis?” aku menghujaninya dengan banyak pertanyaan.

Bunda diam, menatapku dengan lembut. Kemudian katanya sambil membelai rambutku.

“Semua orang pernah kecewa sayang, pernah menangis,,, tapi bukan sakit hati.. Jangan pernah ada kata sakit hati dalam diri kita, itu tidak baik. Kata sakit hati akan menjadi penghalang bagi kita untuk berbuat baik. Apalagi kata marah, saat kita marah, maka selama kemarahan itu ada, selama itu pula kebahagiaan hilang dari kita. Kamu mengerti maksudnya?” suara bunda lembut bersahaja.. Aku diam… termenung memikirkan setiap kata-katanya. Yah,, aku tau.. Saat aku marah dengan seseorang, saat itu aku kehilangan kebahagiaanku, tidak bersemangat dan malas melakukan aktifitas, bahkan enggan untuk bicara. Ya Tuhan,,, berapa banyak ternyata kerugiaan yang aku alami, aku menyadarinya kini.

“Sayang,, kamu harus mencoba untuk tersenyum dalam menyikapi setiap permasalahan. Selama kita hidup di dunia ini, kita selalu menghadapi berbagai cobaan dan tantangan. Semua itu berguna untuk menguatkan kita, menjadikan kita lebih bijaksana. Jangan pernah mengeluh dalam setiap cobaan. Ketika cobaan datang, kita harus berkata bahwa hidup terlalu berharga bila dihabiskan untuk terus menerus merasa cemas dan khawatir. Maka Citra harus melakukan yang terbaik dan menerima apapun yang terjadi, percayalah bahwa Allah yang punya rencana. Bukankah kata bijak mengatakan ‘Man proposes, God disposes’, ya kan..?” lanjut bunda dengan senyumannya. Kututup mataku sekejap ‘tuk merenungkan setiap kata-kata yang keluar dari bibir bunda.

“Bunda, aku ingin belajar dari bunda, tentang bagaimana dibenci tanpa membenci. Tentang bagaimana dihina tanpa kembali menghina. Tentang bagaimana disakiti tanpa menyakiti. Tentang bagaimana memberi tanpa pamrih.” mataku mulai basah  dengan perasaan bergelora, airmataku mulai menetes.

Bunda memelukku dengan penuh perasaan. Kurasakan keteduhan bathinnya. Aku menikmati kehangatan pelukannya yang tulus, kedamaian mengalir dari setiap hembusan nafasnya.

“Bunda, apakah citra bisa seperti bunda?” tanyaku lagi

“Seperti bunda? ehm… justru kamu harus lebih baik dari bunda sayang. Kamu harus tumbuh menjadi wanita yang cantik. Yang disebut wanita yang cantik adalah wanita yang cantik sikapnya di dalam menanggapi berbagai masalah yang menghadangnya. Entah itu masalah kecil maupun masalah besar, kita harus dapat menyelesaikannya dengan tindakan yang cantik”

“tindakan yang cantik? apa maksudnya, bunda?”

Bunda mengajakku duduk di sampingnya, sebelum menjawab.

“Dengar anakku, saat orang lain menggerutu, mengomel dan mengkritik kita, nah.. kita harus berpikir bahwa mereka minta perhatian dari kita. Maka berikan perhatian itu dengan kasih sayang. Jadikan kritikan itu menjadi media untuk menempa kepribadian. Dengan begitu, kesabaran kamu akan terlatih dan jiwa serta hatimu akan bersih, bijak sehingga memancarlah kecantikan kamu..”

Bunda berhenti sejenak. kemudian lanjutnya: “Cobalah marah dengan suara yang lembut dan tertawa dengan suara yang keras, maka kebahagiaan akan terpancar dari wajah kamu. Kamu tau,, kebahagiaan bukan tergantung dari keadaan seseorang, tapi tergantung dari bagaimana sikap orang memandang suatu keadaan yang sedang dialaminya”

Aku berusaha sefokus mungkin mendengar dan memahami kata-kata bunda.

“Anakku, dibalik hujan yang deras, ada pelangi indah. Dan dibalik masalah yang berat, ada kemuliaan. Satu lagi anakku, tebalkan telingamu dari kata-kata negatif dan tipiskan telingamu untuk mendengar nasehat-nasehat bijak”. Kata-kata bunda bagaikan air penyejuk kalbu. Aku sungguh mengaguminya. Kupeluk bunda dengan erat, lalu kucium pipinya dengan lembut.

“Bunda, mampukah citra melakukannya?” bisikku ketelinganya. Bunda lalu memegang kedua tanganku, lalu katanya lagi,,

“Kobarkanlah cinta dan sayang yang kamu miliki, maka dengan cinta itu, kamu dapat melakukannya”.

“Aku akan selalu ada untukmu, anakku.. Sekarang pergilah mandi, sambut pagi dengan ucapan syukur dan bahagia. Jangan biarkan semangat dan kerajinanmu kendor. Bunda menyayangimu”

Sebelum beranjak, aku mencium bunda kembali..

“i love u, bunda. Semoga bunda panjang umur”

“i love you,too my dear..”

Aku lalu beranjak, kakiku terasa ringan melangkah tanpa beban. Aku bagaikan lahir kembali. Kusambut pagi dengan senyumku.. bagiku kini, Hari Esok Penuh Harapan.


🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: